Showing posts with label around me. Show all posts
Showing posts with label around me. Show all posts

9.11.23

Solitude Night of a 36

Sudah lama aku tidak meminum kafein. Bukan karena apa-apa, hanya saja amandel meradang dan pada banyak kesempatan aku tidak begitu sehat untuk menegak kopi. Tapi hari ini aku meminum dua gelas. Keduanya kopi hitam, terakhir aku minta tambahan double shots espresso. Alhasil, selelah-lelahnya aku hari ini, mataku masih terjaga hingga pukul dua dini hari. 

Begitu banyak pekerjaan yang sedang menumpuk dan menjadi beban pikiranku. Beberapa pekerjaan membuatku bertanya-tanya, mengapa aku bekerja sekuat dan serajin ini? Aku sedang tidak ingin membuat siapa pun terkesan. Hanya saja aku terbiasa dengan kesibukan. Tanpa kesibukan aku rasanya bisa menjadi gila dan tenggelam dalam kesepian yang mendalam. 

Bukankah masih ada kedua orang tua? Ya, aku sangat bersyukur masih mereka dampingi di dunia ini. Kalau dulu masih suka aku bercerita pada keduanya. Kini aku memilih mengatupkan rapat-rpaat mulutku. Tidak ingin di usia senja ini mereka mengkhawatirkan hidupku. Hidup anaknya yang penuh masalah dan berantakan sekali. 

Malam semakin dalam menyalakan sunyinya. Dalam hening ini aku mencoba menemukan diriku sendiri. Mencari-cari aku yang tergulung dalam kesibukan yang entah mengarah pada jalan hidupku yang mana. Kesibukan yang begitu acak dalam 6 tahun pertama di periode usia tiga puluhku. 

Tiba-tiba aku berpikir, kenapa waktu begitu cepat berlari? Rasanya baru saja aku menulis resolusi dan kontrak hidupku di usia 30, kini, hanya beberapa tahun lagi, usiaku masuk kepala empat. 

Apa yang berbeda dariku? Apa yang berbeda dari aku yang berusia dua puluh? Kehidupan seperti apa yang akan aku hadapi di empat puluh? Mampukan aku memeluk proses penuaanku dengan penuh cinta dan kasih pada diri sendiri? 

Apa yang sudah aku lakukan dalam puluhan tahun hidup sebagai manusia dewasa? Dosa atau amal baikkah yang aku tabung selama hidupku? Aku ingin mendapatkan kesudahan dan akhir hidup yang terbaik. Aku tidak ingin di akhirat kelak menyesali semua waktu yang tidak kugunakan dengan baik untuk bekal akhiratku. 

Menikah? Tentu aku ingin. Sungguhpun aku bisa mandiri, namun hidup seorang diri sungguh sepi. Walau dalam banyak waktu aku menikmati sendiri dan ruang pribadi, namun pada banyak hal akupun ingin berbagi dengan pasanganku. Tapi, keinginan itu tidak lagi menjadi harapan yang kuidam-idamkan seperti aku dua puluh dahulu. S

Aku hanya ingin hidup berarti dan menjalaninya sebaik-baiknya. Apa yang akan wariskan pada dunia ini? Apa yang akan menjadi bekalku nanti di hari akhir, 

Semuanya adalah pekerjaan yang menanntang diri. Tapi, aku yakin Allah menciptakanku menjadi kuat. Dan ia memberikan takdir yang bagiNYa mampu aku jalani. 



19.10.20

Mimpi

Dua belas tahun. 

Aku bahkan masih mengingatnya. Aku merasa mungkin aku benar-benar tidak waras. Separuh hidupku aku menyimpannya. Kenangan yang tidak ingin aku ingat dan kenang. Tapi hari ini aku melihatnya, terasa amat nyata. Sebelum akhirnya aku sadar, bahwa itu mimpi. Dia yang datang dari kejauhan. Semua teman yang berbisik padaku bahwa dia tidak seorang. Dia yang bertanya kenapa aku belum menikah. Tidak ada rasa canggung dalam mimpiku. Semua baik-baik dan biasa saja. Begitu aku sadar bahwa aku bermimpi, tidak ada rasa kecewa. Rasa yang tertinggal hanyalah rasa. Ternyata setelah 17 tahun lamanya aku tetap memimpikannya, punya rasa yang sama. Tapi sudahlah. Itu hanya mimpi. Tak perlu aku kenang lagi yang sudah pergi. Biarkan dia menjadi penghias kisah silam. Pewarna kehidupan. 

Sambas, 18 Oktober 2020 

6.4.20

What is your passion?

Work hard. If you work hard you'll conquer anything. This time is for you to learn something.
Those are words that i used to said to my younger self. Like 7-10 years a go?

I've switched job, switched work place, but i think i never really know what my passion is. I just work hard. I just tried to do my best. But when things got rough and i feel like i can't handle it anymore. I give up. Back then, i've always thought about resign. But for years i couldn't do it because of some reasons.

When i think i've got my calling job, i finally resigned. My friends told me that he has some projects for me in my hometown. So, i decided to go back to my hometown, take care of my parents, while prepare myself to be a lecturer. But things wasn't going smooth. I was unemployed for almost two years. Well, i did some freelance projects. But it wast like dor 3-4 months. The other months spent for my volunteer works and taking care of my parents.

Now, i am lecturer. But things are not going well. I never imagined being lecture is this hard. I was thought about teaching only. I forget the other aspects. And just in moths after i started this work, i feel unmotivated. I don't know why am i doing this. I often question my choice. Is this the life that i really want to? I've spent my 20's working like no tomorrow. Why should i work like that in my 30's too? 

I fell like the load of my works just as same as my previous jobs. But it worst when i looked at my bank account. Why i do this job? Why i choose this? Why can't i live a fancy, independent, and perfect life like i imagined.

These days, i often question myself .... why do i work so hard? why do i always give my best? Why do people keep expect me to handle such big thing?

I want to be free. But, i never really know what my passion is. When things got really hard, i thought that teaching students is my passion. Contribute to others is my calling. I thought i like teaching and learning. But now, i start to think that i was just running away. Or maybe i like them as hobbies. Not for something i do as a professional. I'm afraid, if i switch my job again, i will be in this situation again.

Lately, i feel like i'm doing things without passion at all. Just do it. It is your responsibility. I keep telling myself that.

Is this how we live in our 30s?


21.9.16

Jogja dan Perjalanan Menemui Diri

Intip intip foto perjalanan selama di Jogja. Mulai dari wisata alam, kuliner, AADC trip sampai pada wisata budaya 😊

Selalu ada yang baru di Jogja

18.9.16

Travelling, Therapy, and The Best Friend


I will never be going anywhere if my friend not by my side. Probably i will just stay at hotel, doing things alone, go to the market and then back in hotel's room.

Yeah, i am a boring person.
But here i am, challenging and going somewhere new with my bestie. She's arranged everything, and i feel so useless. I feel sorry for her.

Okay, but i am not gonna write about it. I will write about today and next day's trip.

Setahun terakhir ini, travelling dalam rangka liburan entah mengapa terasa hambar buat saya. Padahal saya selalu bersama orang orang tersayang dan menyenangkan. Tidak seperti dulu, hasrat travelling dan semngat saya semakin lemah. Padahal saya melakukan hal yang menyenangkan. Hingga hari ini pun saya merasa hal yang sama. Tapi saya tidak berhenti berperjalanan, masih percaya bahwa perjalanan ini adalah terapi justru dibutuhkan jiwa saya. Supaya lebih menghargai hidup, membuka mata lebih luas dan menambah pengalaman yang tidak selalu mudah didapatkan.

Seperti hari ini. Ke Kalibiru, sekedar menikmati alam dan berfoto - foto. Menikmati perjalanan sambil berusaha berdamai dengan diri sendiri. Can i get over this so called depression?

Ya travelling hari ini bukan perjalanan biasa, ini sebuah terapi. Dan teman terbaik saya mengatur perjalanan ini dengan baik. Semua dari dia. Dimana lagi ada sahabat sepertinya. Walau saya tidak bisa menceritakan alias curcol padanya tentang kondisi diri, tapi she's there as my travelmate. That's enough. I can't ask for more.

So thanks for today chinggu!

Salam, tiech yang sedang terapi denga menulis. 😄

12.9.16

Kalau Suka, Kenapa Diam?


Mari menulis topik yang sudah lama tidak ditulis dalam blog ini. Tentang perasaan. Tentang...hmmm..cinta? (etjieee...mau ngomonginn cinta - cintaan....:D )

Bicara soal cinta dan perasaan akhir - akhir ini boleh dikata agak alergi buat saya. I can not bring myself to talk about it. Itu sesuatu yang menurut saya, selama masih bisa ditahan, ya tidak usah diumbar, juga tidak perlu sok romantis dan dramatis.

Mungkin karena saya sudah melewati usia target untuk menikah, saya cenderung cuek dengan soal rasa ini. Juga mencoba menjaga rasa, jangan sampai menyukai seseorang. Emang bisa? 

Perasaan suka atau bahkan perasaan cinta, memang anugerah Tuhan. Tapi tidak menutup kemungkinan, ia juga bisikan yang lahir karena pandangan yang tidak dijaga. Pandangan yang melahirkan lintasan pikiran, yang lama kelaman mengendap dalam hati dan mengendalikan gerak laku kita. Seperti kata pepatah...dari mata jatuh ke hati. Jadi mengendalikan rasa suka sebelum dia tumbuh menjadi lebih besar dan sulit dikendalikan, adalah soal mengambil alih kendali atas mata dan hati kita.

Ya! Itu tidak mudah. Bukan perkara yang menyenangkan, dan mesti siap mental untuk menderita ketimbang memanjakan mata dengan melirik diam - diam orang yang disuka. Mungkin kalau ditanyakan beberapa tahun lalu, saya akan punya pendapat lain soal perasaan. Ya, dulu mungkin saya berpendapat bahwa setidaknya harus ada yang tahu bahwa saya menyukai seseorang. Sekarang, rasa suka, bagi saya adalah ujian. Ujian untuk saya menahan diri, untuk memberi tau orang yang saya suka, ujian untuk tidak curhat pada orang lain soal perasaan ini, juga ujian untuk tidak mendramatisirnya.

Kenapa harus nyusahin diri sendiri sih?

No pain, no gain. 
Kalau percaya pada konsep jodoh, berarti kita siap menerima siapapun yang dijodohkan Allah untuk kita. Dan percaya bahwa jodoh kita, adalah orang dengan nilai yang sama dihadapan Allah. Bisa jadi pada satu aspek dia lebih baik dari kita, tapi di aspek lain saya lebih baik dari dia. Jodoh, adalah perkara rahasia. Rahasia Allah. Bagaimana kalau orang yang saya suka ternyata bukan yang dijodohkan untuk saya?
Sudah menghabiskan waktu dan pikiran kepada yang disuka,menguras perasaan pula, taunya memang bukan jodoh. Sayang waktu dan pikiran kan.

Duh, bisa gitu mengendalikan diri dan perasaan. Perasaan kan bukan kita yang minta?
Yes. Benar sekali.  Suka dengan seseorang, bukan perkara mudah buat saya pun. Tapi memanjakan perasaan suka ini dengan mendramatisasinya pun tidak sehat buat jiwa. Apa tujuan saya suka? Kenapa saya suka? Diakah jodoh yang akan berpartner dengan saya di dunia ini? Sukakah dia pada saya? Duh pertanyaan ini terus datang dan muncul di kepala saya. Bagaimana kalau ternyata dia juga sebenarnya suka pada saya. Tapi takut mengungkapkannya. Duh saya akan melewatkannya dong?

Pertanyaan - pertanyaan itu sebetulnya pertanyaan yang wajar datang pada siapapun yang menyukai seseorang. Tapi, bagi saya yang sekarang, pertanyaan terakhir justru membatalkan kepercayaan saya pada Allah. Kalau ternyata dia suka, dan dia adalah jodoh yang dituliskan buat saya, apapun yang terjadi, dia akan berjodoh dengan saya. Tapi kalau memang bukan dia, sekuat apapun upaya saya untuk menjadikannya, dia tetap bukan jodoh saya.

Jadi kalau suka dengan sesorang sebaiknya bagaimana?
Diam. Tidak memanjakan perasaaan dengan diam- diam melirik (curi - curi pandang), selalu memikirkannya, mencari perhatiannya, atau bahkan selalu melihatnya dari kejauhan, memperhatikan aktivitasnya dan diam - diam selalu menyebut namanya dalam do'a. Diamlah. Riuhlah dihadapan Allah, menurut saya pun riuhnya tidak perlu menyebut nama si dia, mintalah petunjukNya, dibimbing perasaannya kembali. Kalaupun orang yang disuka ini adalah jodoh kita, permudahlah untuk bertemu dalam ikatan pernikahan. Yang menggenggam hati ini adalah Allah, mudah bagiNya untuk membalikkan perasaan kita.

Saya menulis ini sebetulnya tidak berarti saya sudah sepenuhnya bisa melakukannya. I'm still struggling, with my own feeling. I'm still struggling, to keep my faith. Dan saya kira, saya tidak sendiri. Itu sebabnya saya menulis. :D

with love,
tiech yang sedang berusaha menjadi shalihah




Rindu yang tak sampai

Sudah lebih seminggu
Sejak terakhir kali aku menemuimu
Kau diam
Tak berkata apapun

Sudah kukatakan
Aku akan menemuimu nanti
Tinggal di menara itu beberapa hari
bermain bersama dua putri terkasihmu

Aku tak sempat katakan
Aku merindukanmu
Mungkin aku terlalu sibuk dengan urusan sendiri
Hingga tak sempat hanya untuk bertanya kabar

Kita baru bertemu seminggu lalu
tapi aku masih rindu
senyum mu masih terkenang
petuahmu masih terngiang

Ah, betapa selama ini aku mudah sekali
berbagi beban bersamamu

Masih ingat kafe kecil di jalan itu?
Kau adalah orang pertama yang mengajakku kesana
Mengenalkanku pada sepotong kek keju
terenak di kota ini katamu


Oh, bukankah aku terlalu sering menemanimu?
bertualang dalam boga
sambil menapaki masa lalu

Ah, tentu saja semua dengan cuma- cuma
tanggung jawab senior
begitu selalu katamu

Apa semua itu sudah tinggal cerita?
seperti hari itu, ketika aku tersedu
mengaduh keluhku tentang Bunda diseberang sana
dan engkau dengan candamu menenangkanku
sambil memelukku layaknya seorang ibu

Ah, pelukanmu menyembuhkanku

dan aku baru menyadarinya
ketika aku merindukanmu lagi

kini, mustahil sudah menemuimu lagi di dunia ini
semoga Engkau menerima hadiahku disana
semoga terang berkilauan tempat menunggumu
semoga sampai kepadamu,
rindu saudari yang kau kasihi dulu.

sampai jumpa lagi saudariku.

Bandung, 12 September 2016

8.1.16

Hey 2016

Hey 2016. Be good. I'll do my best. 

Sudah lama sekali sejak terakhir menulis bebas di blog ini. Sepertinya tingkat kegalauan berbanding lurus dengan tulisan- - tulisan di blog ini. Blog ini bisa jadi menjadi saksi virtual, bagaimana fluktuasi emosi dan perkembangan fokus seorang Tiech dalam usia 20-annya. 

2016. Tahun yang baru lagi. Kisah di blog ini mungkin sudah mulai berkurang nuansa ke-Korea-annya seiring dengan berkurangnya demam Korea ku (berkurang loh, bukan ilang hehe). Yah, berkurang, karena sudah tidak sekepo dulu dengan lagu, artis bahkan drama Korea. Tapi sepenuhnya meninggalkan dunia per Korea an ini tidaklah mudah. Sekali kau masuk dalam dunia ini, sulit menemukan jalan keluarnya. Selalu ada hal baru yang membuatmu berputar dalam dunianya. Hmm, the only thing that you can do....hanya mengurangi kadar 'kegilaan'nya saja. Itu pun karena pengaruh 'umur' dan emosi yang menuju 'kedewasaan' (selain faktor kesibukan dan meningkatnya kesadaran untuk mengurangi kegalauan, :D). 

2016. Seharusnya menjadi tahun yang bermakna. Karena ini adalah akhir dari my-twenty-something era. Dekade baru akan dimulai di 2017 nanti. Dan sejujurnya, aku tidak pernah membayangkan seperti apa rasanya ketika usia baru itu datang. Jodoh, maut, pekerjaan, keluarga, orang tua.....those things....i know they're all will change. Dan aku tidak tahu apakah aku sesiap itu menghadapi unexpected event in my life. Tapi di satu sisi, aku pun mengharapkan sebuah kejutan membahagiakan di tahun ini. And i really hope, aku tidak sesuram ini lagi. Aku merindukan aku yang dulu, silly lovely and bright side of mine....yes i am!

2016 will be my year, my Happy year! I will make it!

Love, Tiech, yang sedang ingin menulis apapun. 

1.5.15


aku bermimpi...
berjalan bersama ombak
menapakkan kaki, meninggalkan jejak telapaknya di pasir putih
menunggu matahari terbit dari timur
merasakan angin
mendengarkan nyanyian ombak

dalam hempasannya.


apa perempuan sedemikian sulit terdefinisi
ada hari bila ia ingin marah saja
ada hari dia penuh semangat dan ceria
ada masa sepatah kata pun tak bicara
ada masa rasanya sedih tanpa alasan
dan tak tahu harus melabuhkannya pada siapa

29.3.15

Kembali

Pagi ini aku terbangun, dan menemukan diriku terbaring di tempat biasa. Liburan telah usai. Aku kira aku tidak menikmatinya. Tapi, pagi ini aku merindukannya. Tidak ada yang lebih baik dari menikmati laut dengan ombak, pantai berpasir putih, dan langit biru dan bersih. 

Dengan sisa - sisa kesadaran yang aku punya pagi ini - bahwa aku kembali ke kenyataan, aku memulai rutinitas akhir pekan: membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Aku masih memikirkan banyak hal. Mempertimbangkan apa aku sebaiknya mulai menyukai seseorang atau tidak. Ini yang terjadi jika kau pernah jatuh cinta saat travelling. Setiap perjalanan yang aku tempuh, meski dalam keramaian, akan menjadi sunyi. Dan aku pun demikian. Saat orang - orang tertidur dan asik sendiri, aku sedang mendengarkan diriku sendiri. Keluhku yang tersimpan, perasaan yang dipendam dan  pertanyaan - pertanyaan yang tak sempat terajukan. Aku mendengarkan. Dan entah kenapa aku merasa kasihan dengan diriku sendiri. 

Sampai kapan aku akan begini? Apa aku akan menjalaninya dengan baik? Apakah dengan menemukan seseorang, lantas semua kesunyian ini berakhir? Kalau tidak, apa maknanya menyukai seseorang? Apa artinya, jika aku hanya akan merasa melayang sesaat, lalu terhempas dalam kesedihan, lalu merasa datar - datar saja? Apa yang menjadi saripati rasa cinta dan kasih? pengejewantahannya? atau berada dalam situasi serba tidak jelas, merasa menyukai seseorang tapi mungkin dia tidak. merasa menyukai seseorang, dan mengira - ngira mungkin dia merasa hal yang sama. Lantas apa? Jika dia pun suka, ini akan menjadi 'Happy Ending' babak kehidupan yang sekarang, dan menjadi 'New Beginning' bagi babak kehidupan mendatang. Begitu seterusnya siklus hidup. Demikiankah rupanya hidup kita? Jika dia tidak suka, aku hanya akan merasa sedikit terluka, dan aku tahu aku akan kembali baik - baik saja. Semua pertanyaan ini berulang - ulang hadir dalam perjalananku. Dan aku menutupnya dengan pertanyaan lagi, jadi, apakah aku sebaiknya menyukai dia atau hentikan disini saja? Berhenti memikirkan perasaan sendiri dan fokus pada pencapaian - pencapaian yang ingin diraih. Fokus pada tujuanku merantau.Fokus pada pengabdian pada kedua orang tuaku. Atau aku lanjutkan, dan tetap dapat meraih semuanya, tetap mengabdi dan membahagiakan yang tersayang. Entahlah. Aku putuskan untuk berhenti bertanya dan tetap mengagumi dia dari jauh. Aku tahu jawaban terbaiknya ada di Langit. 

-Tiech-

Pemandangan dari Mercusuar Pulau Lengkuas, Belitong





21.3.15

Menuliskan Saripati Hidup

Menulis itu ajaib. Menulis itu menyembuhkan. Aku selalu menikmati membaca tulisanku di masa lalu. Menengok sejenak perjalanan yang pernah aku lewati, masalah yang pernah aku hadapi, masa senang, riang, bahkan badai yang setiap hari melanda hati. Kata 'galau' mungkin pilihan kata yang tepat menggambarkan masa lalu. 

Membaca masa lalu mengingatkanku, bahwa aku yang sekarang, terbentuk dari rangkaian kisah - kisah kecil. Aku bersyukur menuliskannya, meski terserak dimana - mana: (diary, laptop, blog, dll) dan terlalu banyak dramatisir tapi membacanya membawaku pada masa yang sempat terlupakan. Ada waktu dimana aku merasa tidak berharga, kehilangan arah, sepi, merasa berdosa, merasa sangat lemah dan membutuhkan bantuan seseorang. Dan masa dimana aku merindukan orang yang entah dimana, dan menulis surat yang tak pernah terkirimkan. Anehnya, meskipun rasa sakit itu masih terasa, aku tersenyum karena masa sulit itulah yang menjadikan aku kini. Terlebih setelah membaca catatan harianku yang berjudul "AKU INGIN MERASAKAN SARIPATI HIDUP", tertanggal 11 Juni 2007. Tidak lama setelah aku menuliskannya, proses menuju untuk merasakan 'saripati hidup' itu dimulai. Satu demi satu masalah datang, boleh dikatakan bencana bertubi - tubi, ibaratnya setelah badai, datang gempa bumi, tak lama menyusul tsunami. Aku tidak ingin mengingat hari - hari yang aku lalui dalam semua situasi itu.Tapi hari - hari itulah yang membawaku disini. Yang menjadikan aku bisa lebih membijaki hidup. Yang akhirnya menjawab keinginanku 8 tahun lalu: merasakan saripati hidup.

Meskipun tidak sesering dahulu, aku masih menulis, agar momen - momen hidup sempat terabadikan. Tulisanku kini mungkin bukan lagi perihal kehilangan arah, perasaan sepi dan kegalauan lainnya. Juga tidak sedrama dulu.Tapi kini, tulisan itulah yang menceritakan saripati hidup, tentang hal - hal sederhana di sekitar yang menjadi buah pikiran, tentang renungan seorang perempuan yang masih hidup sendiri. Semoga kelak bisa bermanfaat.

Salam hangat,
tiech yang sedang bijak

4.3.15

4 Maret, Man.

Ini bulan Maret. Seperti musim gugur disini, dedaunan mulai merontokkan dirinya sendiri. Halaman penuh dengan dedaunan kering yang belum sempat tersapu. Aku berjalan diatas daun - daun kering itu, dan sendu sore tadi membuatku terkenang cerita lalu.

Hari ini tanggal 4 maret. Dulu, hari ini selalu istimewa. Bukan, aku tidak lagi terjebak dalam romantisme masa lalu. Hanya sekedar mengingat, bahwa pernah ada kau, dan kebodohan seorang aku. Hari ini aku mentertawakan diriku sendiri. Menyadari bahwa pada akhirnya, ini bukan cerita kita. Tapi aku, kesalahanku dan egoku.

Hari ini, sebetulnya aku terlalu sibuk untuk mengenang apapun. Tapi karena hari ini pernah menjadi hari paling menyenangkan dalam hidupku, aku menengok masa lalu kembali. Belajar, betapa kadang rasa pun bisa menipu, betapa waktu dapat menyembuhkan meski meninggalkan bekas luka yang buruk rupa. Dan belajar, betapa aku berputar - putar dalam siklus yang sama dalam satu dekade ini. Menterpurukkan diri sendiri, lalu menyalahkan orang lain. Ah, rupanya menerima dan mengakui kesalahan sendiri teramatlah berat. 

Gerimis masih menemani jalanku. 4 maret, Man. 


tiech, 040315

2.3.15

Maret

Maret. Masih saja hujan turun.
Membawa sendu dan hawa romantis.
Ah rupanya sendu kini bukan hanya milik Desember.

Maret. Aku pernah bilang ini bulan istimewa.
Tapi kini kukira dia hanya bulan yang sama.
Apa mungkin karena aku tengah mati rasa.
Maret. Masih seperti maret lainnya.
Aku masih ber air mata. Tanpa tau apa sebab musababnya.
Satu per satu orang mulai bersandar pada ku.
Satu per satu kawan mulai meninggalkan.
Dan aku menjauh.
Ada kisah yang ingin kuceritakan.
Namun tak dapat terungkap.
Ada rasa yang aku tak pahami.
Tapi seperti tak layak kukatakan.
Aku tergugu dalam sendiriku.
Bukan. Ini bukan sepi.

Karena sepi adalah wujud rasa yang tak layak
Karena sepi berarti mengabaikanNya.
Hanya saja. Aku masih bertanya - tanya.
Selama apa aku akan bertahan.
Menjadi sandaran dan labuhan duka orang- orang kesepian.

-tiech, 02.03.15-


8.12.14

meracau tentang....meracau

Sudah lama sekali rasanya tidak menulis di blog. Sejak terakhir kali menggilai K-POP dan perintilannya. Blog ini banyak menyimpan jejak kelabilan saya, bahkan sejak usia 19 tahun :D. Tapi post di usia itu, sudah dihapus semua, karena super alay sebenarnya. Lalu kenapa tiba - tiba menulis lagi hari ini? Rindu menulis dan begitu banyak hal yang menjadi pikiran saya akhir - akhir ini. hmm...all those assignments, presentations and reports keep me busy as always.  Memang, mengeluh dan excuse bukanlah sesuatu yang baik sih, tapi kadang - kadang saya ingin melakukannya. 

Beberapa hari yang lalu saya dan kawan saya saling berbagi kisah, lalu membicarakan seorang kawan kami yang begitu terobsesi pada seorang perempuan, sejak lama. Hingga terjadi konflik dahsyat diantara mereka, sang perempuan marah besar kepada kawan kami ini. Salah sepenuhnya memang ada pada kawan kami yang unik ini. Hingga kini, sang kawan masih meratapi kesalahannya dan boleh kubilang, hidupnya sangat terfokus untuk mendekati si gadis and trying too hard to impress that girl. Boleh dikatakan, dia terlalu terobsesi pada gadis ini hingga melupakan apa yang namanya tawakkal bahkan mungkin hakikat hidup yang sebenarnya. He always curhat about anything but doing nothing and never listen to any advice i gave him. 

Kawanku ini membuat saya berkaca, bahwa obsesi pada seseorang itu ibarat memegang pasir erat- erat, semakin kita tidak ingin melepasnya semakin banyak kita akan kehilangan. Dan pada saat kita benar - benar kehilangan, ketakutan - ketakutan yang pernah ada pun bermunculan. Obsesinya pada gadis itu tidak lebih dari sekedar ketakutannya sendiri dari perasaan terluka, perasaan sendiri tanpa menyukai siapapun. Itu sudut pandang saya, bahkan ada kemungkinan bahwa obsesi itu hanya sekedar tameng perlindungan, bukan karena dia benar - benar suka pada sang gadis, tapi karena dia teramat mencintai dirinya sendiri. Apa mungkin saya juga begitu? 
 
Mungkin manusia begitu. Semua orang butuh somebody to lean on, tapi yang terbaik adalah menyandarkan diri pada Allah.  Ada waktu di kala kesepian melanda kita, periksalah hati karena sepi itu hanya untuk hati yang lalai mengingatNya. Itu bukanlah hal yang mudah. Melawan diri sendiri, bangkit dan berusaha tetap pada jalur pencarianNya adalah usaha tanpa akhir, karena akan selalu berulang. Kita jatuh, terjerembab di suatu tempat yang bahkan kita tak tahu dimana, namun kita harus berjalan, mencari jalan untuk kembali padaNya. Sendiri itu tidak mudah, i mean literally sendiri, tanpa ada ttm, at least memiliki seseorang yang berarti untuk dirindukan diluar dari keluarga sendiri.
 
Sendiri tidak mudah tapi energi ini bisa dialihkan untuk hal - hal yang lebih bermanfaat, tidak hanya bagi diri sendiri tapi bagi orang lain. Saya tidak ingin membiasakan hidup sendiri, jadi saya ingin sekali melakukan kegiatan sosial. Saya ingin meredam ego pribadi, dengan berbagi dan banyak berinteraksi dengan dunia luar. Saya sendiri, dan saya tidak perlu melakukan cara - cara tidak baik untuk mengisi kesendirian saya kan? Saya percaya, Allah sedang menguji keyakinan saya. Saya percaya, meng-upgrade diri tiada henti adalah juga sebuah usaha mengakhiri kesendirian. Dan saya tahu, pada akhirnya tujuan kita, hanya kembali padaNya.

Oh, i really miss my nieces and nephews.

27.3.14

Catatan Tiech #2

Sudah cukup lama tidak menulis, bukan karena sibuk tapi lebih karena saya berharap lebih banyak hal bermanfaat yang bisa saya curhat kan disini. Akhir - akhir ini, lebih tepatnya dalam setahun ini saya berkesempatan kembali berdekatan dengan keluarga saya (Mama, Bapak dan kakak - kakak saya). Sebagai orang yang hatinya selalu terpaut pada perantauan, keputusan kembali tanpa adanya pekerjaan tetap disini bukanlah perkara mudah. Terutama terkait dengan keuangan alias cashflow. Tapi sejujurnya, meskipun secara real ada himpitan keuangan yang saya alami, Alhamdulillah saya selalu merasa cukup dan tentu saja bahagia karena saya berada dekat dengan orang - orang yang saya cintai.

Kadang - kadang, ada pula rasa galau muncul, pertanyaan dan pernyataan seperti ini muncul: "apa yang sedang aku lakukan?; Why i keep wandering at this age?; kerja sosial apa yang telah aku lakukan?; apa kontribusiku buat masyarakat?; sudah banyakkah manfaat yang aku tebarkan selain untuk keluargaku?; 'fiuh, kenapa kau masih mengurus diri sendiri di usia seperti ini?; bukankah kau sedang menyiakan waktumu?; keputusanku benarkah? bukankah aku meminta petunjuk Tuhan atas pilihan ini; ' aku tidak akan menyesalinya; dst.

Pada waktu lain, seperti malam ini saya sangat bersyukur punya kesempatan menginvestasikan waktu untuk berbakti pada orang tua dan melakukan beberapa hal yang sudah lama saya inginkan sejak kuliah dulu. Juga mensyukuri bahwa waktu luang ini membuat saya belajar banyak hal dan lebih matang dalam mempersiapkan masa depan saya. Ah, dan satu hal lagi! Saya menemukan passion lain dalam diri saya, lebih tepatnya 'membangunkan' kembali. Saya menyukai anak - anak, menyukai menjalankan tugas - tugas rumah tangga dan menyukai perencanaan wilayah dan kota :)). Didalamnya saya menyadari cita - cita dan impian saya yang telah lama tertanam dan telah bertransformasi menjadi tekad yang kuat. Bahkan menjadi doa diam - diam yang terpanjat melalui lintasan kata hati saya. Apa itu? Menjadi 'sekolah' terbaik bagi anak - anak saya kelak. 

Saat ini, dengan rasa cinta pada keponakan - keponakan saya, saya semakin banyak membekali diri dengan pengetahuan parenting, memasak dan keterampilan berkomunikasi. Yang paling menyenangkan adalah menganalisis bahan bacaan yang kini semakin mudah didapat dari internet dan menyaringnya kembali untuk diterapkan sesuai karakter asuhan kita. Saya, disaat memliliki waktu luang, berusaha menyediakan cemilan sehat buatan sendiri untuk anak - anak, mengenalkannya pada bahasa dan dunia luar dan berusaha menjadi tempat 'kembali' yang aman untuk mereka. Saya memang bukan ibunya, tapi menyadari kakak - kakak saya memiliki beberapa keterbatasan (baca: sibuk bekerja), saya selalu berusaha mengisi peran - peran yang bisa saya gantikan. Tentu tidak semua peran ibu kandung bisa saya gantikan. 

Selama proses pembelajaran inilah, saya menyadari bahwa ibu saya punya dasar pengetahuan parenting yang sangat baik, juga pada satu sisi lebih sabar (dan lebih galak) dibandingkan saya. Saya semakin menghormati dan menyayangi beliau begitu membayangkan beliau yang selalu menghadapi 'pemberontakan' saya, sifat keras kepala saya, sifat ceroboh saya dan banyak hal lain. Saya, yang mulai mengkhawatirkan masa depan keponakan - keponakan saya, juga mengkhawatirkan hal seperti : "apa jadinya kalau mereka tidak mengikuti nasihatku  dan orang tuanya" akhirnya menyadari sebegitu lamanya ibu saya berada dalam kekhawatirannya memikirkan saya. Bahkan  hingga sekarang, karena saya yang bahkan tidak ada tanda - tanda akan menikah dalam waktu dekat pun tidak pula berada pada karir yang 'aman'. :D

Renungan saya malam ini, membuat saya menyadari bahwa selama satu tahun 'kembali' nya saya ke rumah adalah waktu yang penuh dengan warna, penuh dengan pembelajaran bagi saya menghadapi masa depan. Sekali lagi, Allah selalu memilihkan yang terbaik bagi hambaNya. Dan meskipun saya tetap menyesali, 1 tahun waktu saya yang terbuang untuk mempelajari banyak hikmah hidup, saya tetap bersyukur Allah memberi saya kesempatan sadar lebih cepat untuk memanfaatkan sisa usia 20-an saya lebih bermakna dan tanpa penyesalan. 

Aamiin.

Tiech, 26.3.14

20.2.14

Menulis dan Mempelajari Diri Sendiri

Dalam kesunyian malam, dalam temaram lampu sambil memandangi wajah - wajah lugu yang terlelap dengan tenang. Disinilah, kembali aku temukan diri menulis dengan tenang di blog ini. Tulisan ini sebenarnya bersifat personal, namun ingin pula dibagikan pada khalayak pembaca blog :)). 

Setelah menulis dengan penuh susah payah dan berlinang air mata pada jurnal harian tadi, ingin sekali aku menulis sekenanya disini. Sekedar menyembuhkan dan merenungkan sekumpulan tulisan yang aku baca hari ini. Esensinya, hanya perihal takdir dan kebiasaan menulis. 

Kebiasaan menulis buku harian sudah ditanamkan oleh Mama sejak kecil, untuk mencatat berbagai peristiwa dan mengenangnya. Sejak kelas 3 SD sudah kumiliki buku harian, berlanjut hingga sekarang. Namun sejak SMP, aku terbiasa menulis berbagai kejadian menarik atau perasaan hati di manapun, termasuk di buku pelajaran. Sejak SMA lah aku kemudian rajin menuliskannya kembali pada buku khusus, yang disebut Diary. Dan sejak itu pula, dimulailah...dear diary....yang semakin rajin kulakukan sejak jatuh cinta. Ya, jatuh cinta itu bisa menjadi hikmah bagiku, menjadikan ku rajin mengubah puisi dan menulis di Diary. 

Semakin lama, aku semakin menikmati menulis Diary (maksudku jurnal harian) dan blog. Untuk urusan blog, kadang kala aku sangat ketat memilih apa yang akan aku post agar isinya tidak sekedar keluhan namun bermanfaat bagi pembaca. Tapi kadang pula aku bebas dan tidak perduli apa penilaian orang atas tulisan ku. Aku hanya butuh menulis, bercerita dan berbagi. Membaca kembali tulisan - tulisan di masa lalu, membuatku mempelajari diri sendiri tentang perubahan cara pikir, bertindak dan perasaan. Juga mengingatkanku, berapa lama aku akhirnya berani mengambil suatu keputusan, berapa lama akhirnya aku berubah dan berapa lama aku jatuh cinta. Ah, kadang - kadang aku geli sendiri membaca diary - diary itu. Betapa lugu, naif dan yahh....lebaynya aku di masa lalu. Ah iya, diary itu juga membantuku mempelajari psikologi orang yang lebih muda. Seperti apa, dan apa yang biasanya dipikirkan orang seusia itu. 

Lucu rasanya, pada saat berusia 22 tahun aku merasa sudah cukup dewasa dan sudah cukup dengan musibah dan kesusahan hidup yang aku alami selama 2 tahun sebelumnya. Tapi sebetulnya, I have no clue.....bahwa sebenarnya masa depan yang akan aku hadapi tahun - tahun berikutnya, akan lebih berat. 

Hari ini, setelah membaca satu bagian dari Buku 'Your Journey To Be The Ultimate U 2" aku menyadari bahwa tidak perlu lah menahan - nahan tulisan apapun yang muncul dari dalam kepalaku. Aku bebas menuliskannya di jurnal harian pribadi atau di blog ini, tanpa khawatir penilaian orang - orang yang membacanya selama semuanya adalah tulisan santun. Ah, insya Allah begitu, karena pikiranku ini nyaris jarang sekali berfikiran buruk, hehehe. Seperti tulisan kali ini, mengalir begitu saja, sudah tidak perduli dengan tata bahasa atau kemungkinan pilihan kata yang buruk sehingga menyulitkan orang untuk memahami. Yang aku inginkan dalam tulisan ini, pikiran yang meloncat - loncat dalam otak ini, bisa segera diwujudkan dalam bentuk teks. Dan ini lah jadinya, Tulisan yang (mungkin) amburadul. Silahkan baca atau abaikan :))

- love, Tiech -


15.2.14

Catatan Tiech #1

"Asalkan dia tidak keras hati sepertimu" kata kakak saya suatu hari dalam obrolan singkat kami via BBM. Dalam bahasa melayu kami, keras hati = keras kepala. Kata - kata kakak saya ini cukup membekas, karena saya sama sekali tidak merasa sebagai orang yang keras kepala. Oh, begitukah selama ini saya dimata mereka? 

Bagi keluarga saya, saya ini keras kepala dan sulit diatur. Tapi bukan lah masalah utama dalam keluarga kami, karena selama ini saya tidak membuat satu masalah pun untuk keluarga. Malah menjadi bagian dari kebanggaan mereka.  Tapi, benarkah saya ini keras kepala? Saya masih bertanya - tanya dalam hati sambil mengingat bagaimana dulu Mama berusaha keras menjadikan saya PNS dan membuat saya kembali ke rumah dengan beragam cara. Akhirnya, beliau menyerah dan mengikhlaskan apapun keputusan yang saya ambil untuk masa depan. Keputusan apa pun yang saya ambil, sudah saya pertimbangkan baik dan buruknya dan tentu saya selalu melibatkanNya dalam istikharah. Jadi, apapun hasilnya, saya tidak pernah menyesali keputusan itu. 

Sola rencana masa depan, memang saya tidak terlalu terbuka dengan keluarga. Karena itu sama saja menyerahkan diri untuk menerima ceramah dari seisi anggota keluarga secara privat. Mendengar hal serupa dari 5 (lima) orang yang berbeda itu, sangat melelahkan. Saya mengerti, mereka melakukan itu karena sayang mereka kepada saya. Pertimbangan orang tua biasanya pertimbangan jangka panjang dan biasanya benar, tapi tidak selalu benar. Tapi mereka tidak melihat dengan mata saya, tidak berjalan dengan kaki saya, merasa dengan hati saya dan juga tidak berada dalam bidang yang saya dalami. Jadi, bila topik tentang rencana masa depan saya dibahas dalam keluarga, saya selalu berada dalam 'defense mode' . Dan biasanya, tidak ada yang mampu meruntuhkan pertahanan saya. Saya selalu menutup pembicaraan bertema masa depan ini dengan kalimat: "percayalah, saya tidak akan sebodoh itu merusak hidup saya sendiri". Entah karena bosan atau lelah, saya sekarang diberikan kepercayaan penuh, atas apapun pilihan saya. Kata Kakak saya; "Percuma berdebat denganmu, selalu punya argumen yang sulit diruntuhkan". Atas kata - katanya itu, saya melihat diri saya lagi. "Oh ya?"

Saya tidak pernah menemukan diri saya sebagai orang yang menyenangi perdebatan dan bisa mepertahankan argumen. Juga tidak pernah merasa sebagai orang yang keras kepala. Saya kira saya ini fleksibel dan plegmatis. Entah kenapa kakak saya berpendapat lain.

-tiech-

random


Quote Template: Quozio.com

4.2.14

Keranjingan Memasak (dan Memakan)


Sejak liburan (dari proyek) saya tinggal di rumah Mama. Saya senang sih disini, tapi masalahnya saya jadi sangat produktif sekali memproduksi makanan dan memakannya. He he he. Kadang, jika merindukan jajanan yang mudah didapat di Bandung dulu, saya akan memasaknya dengan bahan seadanya. Maklum, rumah orang tua saya berada di kota kecil. Tapi justru itu, seni memasak. Menggunakan bahan yang ada tanpa mengurangi rasa enak makanan itu :).  

Selain itu, memasak menjadi sangat menyenangkan bila setiap menu baru disukai semua orang, terlebih anak - anak. Ya, saya selalu senang membuat cemilan untuk keponakan - keponakan saya meski sangat sederhana seperti roti bakar coklat keju atau pisang bakar coklat keju. Cemilan yang selalu saya buat untuk mereka adalah Pancake. I love making Pancake! Gampang banget bikinnya. Ga pake maple syrup atau butter, kasih aja taburan gula dingin....mmm anak - anak dijamin suka. Saking sukanya sama makanan yang satu ini, saya tidak pernah sempat menyajikan pancake dan memotretnya dengan indah karena begitu matang, sudah ada tangan - tangan mungil (dan yang ga mungil) yang mengambilnya dari piring. Jelas, itu membuat saya makin suka membuat penganan ini. 

Dua Pancake Terakhir yang sempat di Foto (dan belum sempat diberi topping)
Masak - memasak (juga nafsu makan) ini semakin menyenangkan setelah saya menemukan situs jejaring sosial khusus memasak yakni dapurmasak.com. Selain karena pilihan resep yang lebih banyak, situs ini lebih jelas step by step nya (bahkan dilengkapi foto), dan ada fitur re-cook :). Unyu deh. 

Nah, kemarin itu saya semacam mengidam kue beras korea (tteokbokki), dan tidak sengaja menemukan resepnya di dapurmasak.com. Kalau dibandingkan dengan resep aslinya, resep yang sudah dimodifikasi ini lebih simple dan tentu bahannya lebih mudah ditemukan. Resep membuat tteokbokki ini bisa dilihat dengan meng-klik link ini . 

Hasil Re-cook Tteokbokki, pedess banget tapi mama dan kakak saya pada doyan!(saya juga tentunya!)

3.2.14

I Want To Love Again (다시 사랑하고 싶다) - Lunafly (English Translation) Lyrics

Hi, semuanya! Sudah lama saya tidak nge-drop lirik lagu korea favorit terkini ya. Saya masih suka korea kok, tapi sudah mengurangi intensitas menonton drama dan mengikuti dunia per-kpop-an. Dan, dalam re-post lirik, biasanya saya selalu pelajari baik - baik terjemahannya dan menulis latinnya (romanization) sendiri. Jadi ga asal copy - paste, meskipun kemampuan saya berbahasa korea sangat minim (akibat sering ga masuk kelas bahasa korea :D). 

Lagu kali ini menarik buat saya karena judulnya (yang pas buat curcol) dan karena dinyanyikan Lunafly, yang suaranya 'emosional' banget. Dan ternyata, setelah dipahami liriknya, kata - kata di lirik ini, pas jadi OST momen saya saat ini. ha ha ha. Seperti kata kawan saya Angie, setiap momen selalu ada lagu yang mewakilinya :D.

Ah, daripada membaca curcol saya, mari nikmati lagu ini. 

루나플라이 -  다시 사랑하고 싶다 (우리가 사랑할 수 있을까 ost part.2)
Lunafly - I Want To Love Again (Can We Love OST)


다시 사랑할 수 있을까
Dasi saranghalsu isseulkka
Can i love again?

다시 누군가를 사랑할 수 있을까
Dasi nugungareul saranghalsu isseulkka
Can i love someone again?


길게 늘어진 한없이 나약한
Gilge neurojin haneobsi nayaghan
As i sway and walk on a path endlessly
살얼음 길을 휘청대며 걸어가
Saroreum gireul hwijeongdaemyeo georeoga
Covered with a sheet of ice
누군가를 만나고 사랑을 하는 게
Nugungareul mannago sarangeul hanen ge
To meet someone and fall in love
왜이리 힘들까
Weiri himdeulkka
Why is it so hard?

차마 말 못해 틀린 길이였다고
Chama mal mothae theullin giriyeottago
I can’t bear to say that this was the wrong path
그럼 내가 더욱 초라해져
Geurom naega deoug chorahaejyo
because then I’ll be even more pitiful

내 얘기는 또 누군가의 스토리
Nae yaegineun ddo nugungaui sethori
My story will become someone else’s story
절대 난 외롭지 않아
Choltae nan werobji anha
so I’m never lonely

사랑할 수 있을까 나보다 더 누군갈
Saranghal su isseulkka naboda deo nugungal
Will i be able to love someone more than myself?
너무 늦어버린 건 아니길 바래
Neomu neujeobeorin geon anigil barae
I hope it’s not too late
가슴 속은 아직 누군갈 향해 뛰어
Gaseum sogeun ajik nugungal hyanghae dwieo
My heart is still racing toward somenone
다시 눈물이 흘러 다시
Dasi nunmuri heulo dasi
tears fall again....again

한치 앞길도 보기가 힘들어
Hanchi aphgildo bogiga himdeuro
It’s hard to see ahead
눈을 감으니 오히려 환해져
Nuneul gameni ohiryeo wanhaejyo
So i closed my eyes and it actually got bigger
꿈속에서 나는 니 앞에 서있어
Kumsogeseo naneun ni aphe seoisseo
In my dream, i’m standing before you
너무 아름답게
Neomu areumdapge
So beautiful

차마 말 못해 너를 사랑한다고
Chama mal mothae neoreul saranghandago
I can’t say i love you
그럼 혹시 사라질까봐
Geurom hogsi sarajilkkabwa
In case you disappear

내 얘기는 또 누군가의 스토리
Nae yaegineun to nugungaui sethori
My story will become someone else’s story
절대 난 외롭지 않아
Cheolte nan werobji anha
So i’m never lonely

사랑할 수 있을까 나보다 더 누군갈
Saranghal su isseulka naboda deo nugungal
Will I be able to love someone more than myself?
너무 늦어버린 건 아니길 바래
Neomu nejeobeorin anigil barae
I hope it’s not too late
가슴 속은 아직 누군갈 향해 뛰어
Gaseum sogeun ajig nugungal hyanghae dwieo
My heart is still racing toward someone
다시 눈물이 흘러 다시
Dasi nunmuri heullo dasi
tears fall again....again

다시 사랑할 수 있을까
Dasi saranghalsu isseulkka
Can i love again?
다시 누군가를 사랑할 수 있을까
Dasi nugungareul saranghalsu isseulkka

Can i love someone again?


==============end==============

Lyrics (Hangeul) : Jet Lyrics
Romanization: by Tiech (it's me! Feel free to correct it :))
Translation: @popgasa (99%)