Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

21.1.18

K O S O N G

sunyi menyusur hati
bisu membalut diri

di tiap langkah aku ragu
haruskah ku tunjukkan
atau bersembunyi

ah, sudahlah
bukankah rasa selalu hilang
kemudian berganti

yang ini pun akan begitu
tetap terkubur
tak perlu terungkap
karena tak bermakna

rasa ini tak menarik
tak cukup untuk diperhatikan
ia seperti buih di lautan
ini sungguh perasaan yang tidak perlu dipentingkan

karna bukan dari sang dewi
nan berparas indah menawan
atau jiwa yang menyenangkan

ia hanya sepi
dari jiwa yang terpinggirkan
sendiri

#mellowJanuary


1.5.15


aku bermimpi...
berjalan bersama ombak
menapakkan kaki, meninggalkan jejak telapaknya di pasir putih
menunggu matahari terbit dari timur
merasakan angin
mendengarkan nyanyian ombak

dalam hempasannya.


apa perempuan sedemikian sulit terdefinisi
ada hari bila ia ingin marah saja
ada hari dia penuh semangat dan ceria
ada masa sepatah kata pun tak bicara
ada masa rasanya sedih tanpa alasan
dan tak tahu harus melabuhkannya pada siapa

Apa ini?
Ada yang meledak - meledak.
Berlomba - lomba seperti ombak yang ingin segera menghempas di pantai.
Rasanya bergolak. seperti ingin segera dijewantahkan dalam kata.
Ada pinta yang terbisikkan dalam fajar hari ini.
Ada harap yang pelan - pelan menemukan jalannya ke langit, saat hujan merintik.
Semua ini tidak membingungkan.
Aku tahu ini apa.
Tapi apakah ini nyata.
atau hanya asa yang mulai lelah menemukan tempatnya.

-tiech, sekembalinya dari Belitong, dengan perasaan yang meluap - luap-

2.3.15

Maret

Maret. Masih saja hujan turun.
Membawa sendu dan hawa romantis.
Ah rupanya sendu kini bukan hanya milik Desember.

Maret. Aku pernah bilang ini bulan istimewa.
Tapi kini kukira dia hanya bulan yang sama.
Apa mungkin karena aku tengah mati rasa.
Maret. Masih seperti maret lainnya.
Aku masih ber air mata. Tanpa tau apa sebab musababnya.
Satu per satu orang mulai bersandar pada ku.
Satu per satu kawan mulai meninggalkan.
Dan aku menjauh.
Ada kisah yang ingin kuceritakan.
Namun tak dapat terungkap.
Ada rasa yang aku tak pahami.
Tapi seperti tak layak kukatakan.
Aku tergugu dalam sendiriku.
Bukan. Ini bukan sepi.

Karena sepi adalah wujud rasa yang tak layak
Karena sepi berarti mengabaikanNya.
Hanya saja. Aku masih bertanya - tanya.
Selama apa aku akan bertahan.
Menjadi sandaran dan labuhan duka orang- orang kesepian.

-tiech, 02.03.15-